3.4 Komputasi Awan dan Perangkat Bergerak
Komputasi Awan
Bayangkan aplikasi akademik sebuah kampus yang berjalan di server milik kampus sendiri. Hampir sepanjang semester, bebannya ringan. Namun, pada hari pertama pengisian KRS, ribuan mahasiswa membuka aplikasi dalam waktu bersamaan, dan aplikasi menjadi sangat lambat atau tidak bisa dibuka. Kampus menghadapi dilema. Membeli server yang cukup besar untuk hari tersibuk berarti sebagian besar kapasitasnya menganggur di hari-hari lain, sedangkan membeli server kecil berarti mahasiswa kesulitan setiap awal semester.
Komputasi awan menawarkan jalan lain. Komputasi awan (cloud computing) adalah model penyediaan sumber daya komputasi, seperti server, penyimpanan, dan aplikasi, yang disewa dari penyedia, diakses melalui jaringan, dan dapat ditambah atau dikurangi dengan cepat sesuai kebutuhan. Definisi yang banyak dirujuk menyebut lima ciri (Mell & Grance, 2011):
- Swalayan sesuai permintaan: pelanggan menambah sumber daya sendiri melalui panel atau perintah, tanpa menunggu teknisi penyedia.
- Akses melalui jaringan: layanan dipakai dari berbagai perangkat yang terhubung.
- Sumber daya dipakai bersama: penyedia melayani banyak pelanggan dari kumpulan perangkat keras yang sama, dan pelanggan umumnya tidak tahu persis di mesin mana layanannya berjalan.
- Elastis: kapasitas dinaikkan saat beban tinggi dan diturunkan lagi saat beban normal.
- Pemakaian terukur: pemakaian dicatat, dan biaya umumnya dihitung sesuai pemakaian.
Dengan ciri tersebut, kampus tadi dapat menyewa kapasitas tambahan hanya selama masa KRS, lalu menguranginya kembali.
Ada satu hal yang sering disalahpahami: tidak semua sistem yang diakses lewat Internet adalah komputasi awan. Aplikasi akademik yang berjalan di server milik kampus tetap on-premise, walaupun mahasiswa membukanya dari rumah. Yang membedakan adalah siapa pemilik dan pengelola infrastrukturnya, serta apakah kapasitasnya dapat disesuaikan dan dibayar sesuai pemakaian. Komputasi awan juga tetap memakai perangkat keras. Servernya ada, hanya berada di pusat data milik penyedia.
| Aspek | On-premise | Komputasi awan |
|---|---|---|
| Pemilik perangkat keras | Organisasi sendiri | Penyedia layanan |
| Lokasi server | Ruang server organisasi | Pusat data penyedia |
| Pola biaya | Investasi besar di awal untuk membeli perangkat | Biaya rutin sesuai pemakaian |
| Menambah kapasitas | Membeli dan memasang perangkat baru, bisa memakan waktu berminggu-minggu | Bisa dilakukan dalam hitungan menit |
| Perawatan fisik, listrik, dan pendingin | Tanggung jawab organisasi | Tanggung jawab penyedia |
Model Layanan dan Model Penerapan
Layanan komputasi awan biasanya dibagi menjadi tiga model berdasarkan seberapa banyak yang disediakan penyedia (Mell & Grance, 2011; Laudon & Laudon, 2020).
| Model | Disediakan penyedia | Diurus pelanggan | Contoh pemakaian |
|---|---|---|---|
| Infrastructure as a Service (IaaS) | Server virtual, penyimpanan, dan jaringan | Sistem operasi, aplikasi, dan data | Kampus menyewa server virtual untuk menjalankan aplikasi akademiknya sendiri |
| Platform as a Service (PaaS) | Infrastruktur ditambah lingkungan untuk membangun dan menjalankan aplikasi | Kode aplikasi dan data | Tim pengembang membuat aplikasi tanpa mengurus server dan sistem operasi |
| Software as a Service (SaaS) | Aplikasi siap pakai beserta seluruh infrastrukturnya | Data dan pengaturan akun pengguna | Email kantor berbasis web, aplikasi akuntansi online untuk UMKM |
SaaS adalah model yang paling dekat dengan pengguna, sekaligus cara memperoleh perangkat lunak dengan berlangganan. Banyak UMKM kini tidak membeli aplikasi akuntansi, melainkan berlangganan bulanan dan membukanya lewat browser.
Dari sisi siapa yang memakai infrastrukturnya, dikenal awan publik (dipakai bersama banyak pelanggan dari satu penyedia), awan privat (infrastruktur awan yang dikhususkan untuk satu organisasi), dan awan hibrida (gabungan keduanya, misalnya data sensitif disimpan di awan privat sementara aplikasi lain berjalan di awan publik).
Pertimbangan dalam Memakai Komputasi Awan
Elastisitas dan pola biaya sesuai pemakaian adalah alasan utama organisasi beralih ke komputasi awan. Keputusan ini tetap membawa risiko yang perlu ditimbang:
- Ketergantungan pada koneksi. Jika koneksi Internet kantor putus, aplikasi SaaS tidak dapat dibuka sama sekali.
- Keamanan dan privasi data. Data organisasi disimpan pada pihak ketiga. Organisasi perlu memastikan siapa yang dapat mengakses data tersebut dan apakah penyimpanannya memenuhi peraturan. Di Indonesia, pemrosesan data pribadi diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
- Ketergantungan pada penyedia (vendor lock-in). Setelah data dan aplikasi disesuaikan dengan layanan satu penyedia, pindah ke penyedia lain bisa sulit dan mahal.
- Biaya yang tidak terkendali. Biaya sesuai pemakaian menguntungkan untuk beban yang naik-turun, tetapi tagihan bisa membengkak jika pemakaian tidak dipantau. Untuk beban yang stabil dalam jangka panjang, memiliki server sendiri kadang justru lebih murah.
Karena pertimbangan itu, banyak organisasi memakai keduanya: sistem inti tetap berjalan on-premise, sementara email dan aplikasi pendukung memakai layanan SaaS.
Perangkat Bergerak
Perangkat bergerak (mobile devices) adalah perangkat komputasi yang dirancang untuk dibawa dan dipakai sambil berpindah tempat, terutama smartphone dan tablet. Perangkat ini menjalankan sistem operasi bergerak seperti Android dan iOS, serta terhubung ke jaringan melalui Wi-Fi atau jaringan seluler.
Dalam sistem informasi, perangkat bergerak punya dua peran. Peran pertama adalah sebagai sarana akses. Nasabah memeriksa saldo dan mentransfer uang lewat mobile banking tanpa datang ke kantor cabang. Seorang atasan menyetujui pengajuan cuti bawahannya dari ponsel saat sedang dinas luar.
Peran kedua sering kurang disadari, padahal dampaknya bagi SI lebih besar: perangkat bergerak sebagai alat pengumpul data di tempat kegiatan berlangsung. Smartphone membawa kamera, GPS, dan berbagai sensor, sehingga ponsel sekaligus berfungsi sebagai perangkat input. Aplikasi pengemudi ojek daring mengirim lokasi pengemudi secara berkala, sehingga sistem dapat menugaskan pesanan kepada pengemudi terdekat. Aplikasi absensi pegawai lapangan merekam lokasi dan foto saat pegawai melapor hadir. Petugas survei mengisi kuesioner langsung di ponsel, lengkap dengan titik koordinat rumah responden.
Bandingkan dengan cara lama: data dicatat di kertas, dibawa ke kantor, lalu diketik ulang sore harinya. Dengan perangkat bergerak, data masuk ke sistem saat kejadian, sehingga lebih tepat waktu dan tidak melewati tahap ketik ulang yang rawan salah.
Banyak organisasi juga mengizinkan pegawai memakai ponsel pribadi untuk bekerja, yang dikenal sebagai bring your own device (BYOD). Praktik ini menghemat biaya perangkat, tetapi menimbulkan pertanyaan baru: apa yang terjadi pada data perusahaan jika ponsel pegawai hilang, atau ketika pegawai tersebut keluar dari perusahaan?
Satu Sistem, Semua Komponen
Komputasi awan dan perangkat bergerak paling sering dipakai bersama. Contoh berikut memperlihatkan bagaimana seluruh komponen dalam bab ini bekerja dalam satu sistem.
Sebuah distributor minuman memiliki tenaga penjual yang setiap hari mengunjungi warung dan toko. Di setiap toko, penjual mencatat pesanan melalui aplikasi di smartphone Android dan memotret rak untuk memeriksa penempatan produk. Pesanan dikirim melalui jaringan seluler dan Internet ke aplikasi penjualan yang dijalankan distributor di layanan komputasi awan. Beberapa menit kemudian, bagian gudang melihat pesanan itu di komputer kantor dan menyiapkan barang, sementara manajer penjualan memantau total pesanan hari itu di dasbor.
Dalam satu alur itu terlibat perangkat keras (smartphone dengan kamera dan GPS, server di pusat data penyedia, komputer gudang), perangkat lunak (Android, aplikasi penjualan, DBMS), jaringan (seluler, Internet, TCP/IP, HTTPS), serta komputasi awan dan perangkat bergerak. Ketika satu komponen bermasalah, misalnya sinyal seluler hilang di daerah tertentu, aplikasinya perlu dirancang untuk menyimpan pesanan sementara di ponsel lalu mengirimnya ketika sinyal kembali. Keputusan desain seperti itu hanya bisa diambil oleh orang yang memahami semua komponen sekaligus.